Minggu, 09 Juni 2013

Rencong Marencong

RENCONG MARENCONG
Hei bagaimana kabar kawan-kawan
Apakah baik kondisimu disana
Kami disini sedang bernyanyi kawan
Akan senandung lagu rindu tentang kamu
Yang ada di timur, bagaimana kabarmu
Yang ada di barat, bagaimana kabarmu
Yang ada di utara, bagaimana kabarmu
Yang ada di selatan, bagaimana kabarmu
Yang ada di gunung, bagaimana kabarmu
Yang di sebrang lautan, bagaimana kabarmu
Yang di kota-kota, bagaimana kabarmu
Yang di desa-desa, bagaimana kabarmu
Yang dibalik tembok, bagaimana kabarmu
Yang dikolong jembatan, bagaimana kabarmu
Yang dipasar-pasar, bagaimana kabarmu
Yang dijalan-jalan, bagaimana kabarmu
Yang tersapu badai, bagaimana kabarmu
Yang terbakar matahari, bagaimana kabarmu
Yang terbujur sakit, bagaimana kabarmu
Yang berselimut dingin, bagaimana kabarmu
Kurindukan selalu untuk dirimu
Semoga kau disana bersahaja slalu
Rencong marencong, rencong marencong


demikian lirik lagu yang dinyanyikan oleh sekelompok anak muda yang resah terhadap keadaan bangsa ini..mereka tak pernah senang dengan sebutan band. sekelompok anak muda yang menamakan kelompok mereka dengan sebutan marjinal. marjinal sebagai penanda "pinggiran", terbuang, terpinggirkan.

sebagian orang menyebut mereka sebagai kelompok punk. dengan ideologi anarki yang melekat erat pada kelompok punk pada umumnya.

entah mengapa belakangan ini saya mulai tertarik untuk kembali menikmati pesan yang mereka teriakkan melalui syair lagu mereka. seolah ada hal yang ingin dilepaskan dan diteriakkan sekuat tenaga saat mendengar lagu ini. saya tetiba menjadi hyperactive saat mendengar lagu ini..

lagu yang menghadirkan kembali kenangan bertahun lalu saat saya masih berstatus mahasiswa FEUH. lagu yang menghidupkan semangat saat segalanya terasa begitu absurd. saya selalu merasa terlahir kembali sebagai seorang anak muda yang polos saat lagu ini mengalun dengan ritmenya yang cepat dan menghentak.

dulu saya menyebutnya sebagai sebuah lagu paling ramah dimuka bumi. karena penggalan liriknya yang senantiasa menannyakan kabar pada semuanya. meski dalam pemikiran yang lebih dalam mungkin saja akan ditemukan berjuta teriakan perlawanan khas punk didalamnya.

saya hanya mencoba untuk memaknainya dengan sederhana, bahwa lagu ini mencoba untuk menunjukkan pada khalayak bahwa punk tidak seperti yang mereka pikirkan, punk tidak identik dengan kekerasan dan kejahatan. punk hadir untuk memberikan warna yang membebaskan dan memerdekakan. punk bisa ramah dan harus ramah terhadap mereka yang tertindas.

walaupun tetap saja punk harus berteriak lantang menghadapi penindasan dan penjajahan yang dilakukan oleh pemerintah yang dzalim.

salam perlawanan..
satu bumi milik bersama tanpa batas tanpa penindasan..

sumber lirik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar